JAKARTA, BUMISENTRA.com – Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menegaskan perlunya transformasi besar dalam strategi penanggulangan bencana di Indonesia. Pemerintah kini mendorong keterlibatan aktif dunia usaha sebagai mitra strategis untuk memperkuat ketangguhan bencana, menjaga rantai pasok, dan meningkatkan resiliensi wilayah, khususnya di kawasan Sumatra. Selasa (23/6/2026).
Penegasan tersebut disampaikan Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, Lilik Kurniawan, dalam Rapat Koordinasi Penguatan Strategi Transformasi Kolaborasi dengan Dunia Usaha.
Kemenko PMK menilai bahwa tantangan kebencanaan saat ini tidak lagi terbatas pada aspek keselamatan jiwa. Dampaknya juga meluas ke sektor ekonomi, gangguan rantai pasok, hingga hambatan terhadap pembangunan nasional.
Deputi Lilik Kurniawan menegaskan bahwa kondisi tersebut menuntut perubahan pendekatan yang lebih adaptif dan kolaboratif dalam penanganan bencana di Indonesia.
Menurutnya, ketergantungan pada pemerintah saja tidak lagi cukup untuk menghadapi risiko bencana yang semakin kompleks.
Dorongan Transformasi Kolaborasi Multipihak
Dalam arahannya, Lilik menekankan pentingnya keterlibatan dunia usaha dalam sistem penanggulangan bencana nasional. Ia menyebut sektor swasta memiliki sumber daya, inovasi, serta jaringan yang dapat memperkuat kapasitas negara dalam menghadapi risiko bencana.
“Dunia usaha memiliki sumber daya, kapasitas, jaringan, dan inovasi yang dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat ketangguhan bencana nasional. Kolaborasi yang lebih terstruktur dan berkelanjutan perlu terus didorong agar seluruh pemangku kepentingan dapat berkontribusi sesuai kapasitasnya dalam menghadapi berbagai risiko bencana,” ujar Lilik.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kolaborasi tidak boleh bersifat sementara, melainkan harus dibangun secara sistematis dan berkesinambungan.
Sinergi Pentahelix Jadi Kunci Ketahanan Bencana
Kemenko PMK juga menyoroti pentingnya penguatan sinergi lintas sektor melalui pendekatan pentahelix. Model ini melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, organisasi profesi, masyarakat sipil, serta mitra pembangunan.
Melalui pendekatan tersebut, pemerintah berharap kesiapsiagaan bencana dapat meningkat, sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok dan keberlanjutan pembangunan di wilayah rawan bencana.
Selain itu, kolaborasi ini juga diarahkan untuk mempercepat inovasi dalam mitigasi risiko serta pemanfaatan teknologi kebencanaan.
